Sabar Menyikapi Takdir

Oleh Sya2

Pada sore hari yang mendung, aku duduk membaca berita dari
surat kabar pagi yang baru sempat dibaca sore harinya. Sedih,
membaca cerita ada orangtua yang hendak membunuh anaknya
dengan alasan karena mereka hidup miskin. Sambil beristigfar hatiku
berbisik lirih, ternyata kemiskinan telah membutakan mereka membawa
mereka menjadi orang yang kufur bahkan bisa menjadi kafir. Naudzubillah.
 
Dari kejauhan terdengar suara bapak penjual gorengan berteriak-teriak
menjajakan gorengannya. ”Comro, Misro..., nas! i uduk, tempe goreng...”
Suara si bapak tedengar begitu keras mengagetkan lamunanku. Segera
kumemanggilnya ”Comro dan misro pak..!”.
 
”Oke Mbak.!” si bapak menghampiriku.
 
”3 ribu aja pak, sebentar saya ambil piringnya ” sahutku sambil lari ke dalam
rumah mengambil piring. Sedangkan anakku yang berumur 2 tahun malah lari
keluar mendekati si bapak, mereka memang sudah akrab bahkan anakku
memanggil bapak penjual gorengan itu dengan panggilan Pak De.
 
Ketika aku kembali sampai di tempat mereka berada mereka sedang
bercanda ria. ”Ini bu, saya tambahin dua misronya, bonus...” katanya
sambil tersenyum ramah. Seperti biasa bapak ini memang selalu
memberiku bonus. ”Makasih pak...” jawabku sambil mengigit misronya.
 
Rasa manis misro itu membuatku lupa akan cerita pahit yang baru saja
kubaca dari surat kabar tadi. Manis tutur kata dan perilaku bapak penjual
gorengan itu yang selalu dihadirkan pada setiap pembelinya, seolah menutupi
pahitnya kisah hidupnya sendiri. Pak Pardi nama beliau, umurnya sudah
tidak muda lagi, kuperkirakan sudah kepala lima. Pak Pardi tinggal di
kampung yang letakn! ya bersebelahan dengan kompleks perumahakn
di mana aku dan keluargaku tinggal, Pondok Jaya nama kampung itu.
Dari kompleksu ada jalan akses yang bisa langsung menuju kampung
pondok jaya, tak heran jika Pak Pardi dengan leluasa bisa berdagang di
kompleks, karena memang jaraknya dekat sekali.
 
Kisah pahitnya kehidupan Pak Pardi dan keluarganya berawal saat kompleks perumahanku ini mulai dibangun. Banyak sekali tukang bangunan yang
bekerja membangun rumah-rumah di komplek. Pak Pardi dan isterinya
berjualan nasi, sayur, lauk-pauk dan makanan-makanan kecil lainnya
untuk melayani kebutuhan makan dari para tukang bangunan dan
mandornya di kompleks itu.
 
Para pekerja bangunan itu dibayar secara borongan jika pekerjaan mereka
sudah selesai, sehingga untuk membayar makan mereka harus berhutang
dulu kepada Pak Pardi dan isterinya, tidak ada jaminan apa-apa dalam
hutang itu, hanya bu Pardi tiap hari mencatat siapa-siapa saja yang berhutang
dan berapa jumlah hutangnya per hari. Proyek pembangunan itu berjalan
kurang lebih satu tahun, dan selama itu pula para tukang bangunan itu
belum membayar hutangnya pada Pak Pardi dan Bu Pardi, hanya ada
segelintir tukang yang mau membayar hutangnya itupun hanya dibayarnya
sebagian saja. Sementara untuk modal dagang sehari-hari Pak Pardi
mengambil hutang dari bank keliling alias rentenir kampung.
 
Nasib sial dialami Pak Pardi dan isterinya ketika mereka sudah kehabisan
modal dan sudah terjerat banyak hutang dari rentenir, mereka pun berniat
menagih hutang-hutang para tukang bangunan dan mandor-mandor yang
sering makan dari warung mereka, akan tetapi hampir semua tukang dan
mandor itu sudah pergi, tidak berada di wilayah komplek lagi, kabur tanpa
kabar, karena ternyata proyek pembangunan rumah sudah selesai. Pak Pardi
dan isteri tertipu. Shock tentu saja mereka, apalagi hutang dari rentenir itu
sudah beranak pinak bunganya.
 
Akhirnya mereka terpaksa menjual rumah mereka untuk melunasi
hutang-hutang itu. Dan mereka menyewa rumah petak tepat persis di depan
rumah yang telah mereka jual itu. Betapa sedih mereka setiap hari harus
menghadapi kenyataan bahwa rumah yang tepat berada di rumah petak
kontrakannya itu dulunya adalah rumah mereka. Aku hanya tertegun, ikut
merasakan kesedihan mereka, ketika Bu Pardi dan suaminya menceritakan
kisah hidupnya kepadaku ketika awal aku pindah ke ke komplek itu.
 
Sambil memasukkan kayu bakar di tungku penggorengan di ruma petaknya
Bu Pardi sesekali terisak menangis. ”Beginilah Mbak, bodohnya saat itu
kami terlalu percaya begitu saja kepada para tukang bangunan itu, ternyata
mereka kurang ajar semua, bahkan mandor kontraktornya pun tidak mau
bertanggung jawab..” kata Bu Pardi.
 
”Kami yakin ini takdir sih Mbak, namun kami juga tidak mau pasrah begitu
saja tanpa usaha, kami sudah berusaha mencari-cari keberadaan para tukang
bangunan ini, tapi nihil hasilnya, karena mereka semua sudah pulang ke jawa...”
sahut Pak Pardi menambahkan.
 
”Sekarang kami sudah tidak punya apa-apa lagi mbak, setelah satu-satunya
harta yang kami miliki telah kami jual untuk membayar hutang dari rentenir,
terpaksa kami menyewa rumah petak kecil ini.” tutur bu Pardi sedih.
 
Mereka juga menyebutkan jumlah kerugian yang mereka alami yang
mencapai puluhan juta rupiah. Tak heran aku mendengar jumlahnya,
karena jika satu orang saja sehari makan minimal dua kali dia akan
berhutang sepuluh ribu rupiah per hari maka jika dia hutang selama
setahun sudah satu setengah juta lebih totalnya. Dan itu masih harus
dikalikan dengan jumlah tukang yang berhutang yang berjumlah
puluhan orang.
 
Hari-hari berlalu, musibah yang dialami keluarga Pak Pardi mereka
hadapi dengan sabar. Mereka juga berusaha bangkit perlahan-lahan
untuk kembali berjualan gorengan. Kini merka berjualan di lingkungan
komplek kami. Dengan menjajakan dagangannya dari pintu ke pintu,
wajah-wajah ceria dan ramah selalu menghiasi wajah Pak Pardi maupun
Bu Pardi, mereka adalah orang-orang yang kuat dalam menghadapai
cobaan hidup.
 
Aku harus bisa memetik pengalaman hidup mereka sebagai sebuah hikmah
agar bisa meniru kesabaran mereka dalam menghadapi cobaan. Allah SWT
telah berfiman ”Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan kepadamu
dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan,
Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar.(Yaitu)
 orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan
”Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun”. Mereka itulah yang mendapatkan
keberkatan secara sempurna dan rahmat dari tuhannya, dan mereka
 itulah orang-orang yang mendapat petunjuk ” (Al-Baqarah: 155-157).
 
Seorang muslim yang benar adalah seorang yang mampu menanggung
musibah-musibah yang dialaminya dengan teguh dan sabar dengan
keyakinan bahwa Allah SWT akan memberikan hikmah yang terbaik
untuknya. Seorang yang beriman, tentu me! ngetahui bahwa takdir Allah swt
akan menjadi kebaikan baginya, baik di dunia maupun di akhirat kelak.
Pahala dari sabar adalah surga. Anak, Isteri/Suami dan harta benda yang
kita miliki bisa merupakan ujian dari Allah SWT dan jika suatu saat Allah
berkehendak menguji atau bahkan mengambilnya kembali, tidak ada yang
bisa kita lakukan kecuali bersabar dan tidak lantas berputus asa.
 
Rasulullah SAW telah memperingatkan kita agar tidak berputus asa,
karena dengan berputus asa, seseorang justru akan menyiksa diri sendiri.
Lihatlah kasus orangtua yang membunuh anaknya karena mereka miskin,
itu adalah salah satu contoh orang yang berputus asa dari rahmat Allah.
Seandainya mereka mau berusaha, Insya Allah, Allah akan membukakan
pintu rezekinya untuk mereka. Namun jika mereka hanya berputus asa
bahkan sampai membunuh anaknya, saya yakin justru mereka akan
menderita, selain mendapat dosa, batin mereka akan tersiksa.***
 
 
http://www.eramuslim.com/atk/oim/6c28092529-sabar-menyikapi-takdir.htm?other

I really like these herbs, I

I really like these herbs, I hope that you guys can help me grow them in my place. - Bath Planet


Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
Add image
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Images can be added to this post.

More information about formatting options

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
Image CAPTCHA
Copy the characters (respecting upper/lower case) from the image.