Pemuda sang Karyawan dan Sang Pemulung

oleh: dede meki mekiyanto
Dari sebuah Ilustrasi yang tumbuh dalam fikiran........


Suatu pagi jam 7.30 pagi, Seorang pemuda berusia sekitar 27 tahun-an di stasiun Dukuh Jl. Sudirman Jakarta, turun dari sebuah kereta listrik ekonomi. Setelah itu dia menaiki Ojeg motor langganannya menuju ke gedung tinggi dimana dia bekerja sebagai Karyawan suatu perusahaan besar dan terkenal.


Pemuda itu telah bekerja di kantor itu lebih dari 3 tahun. Setelah sampai di depan gedung, terjadi saling sapa dengan rekan-rekan yang lain dengan lemparan senyum satu sama lain dengan ceria.


Setelah jam kerja usai, sekitar jam 17.00 pemuda itu keluar kantor dan menaiki ojeg ke stasiun Dukuh dan seperti biasa antre beli tiket kereta untuk pulang ke rumahnya dengan Kereta Listrik.


Peristiwa itu, dengan rutin dilakukan pemuda setiap hari kerja terus-menerus.
Di balik rutinitas itu, dibalik senyum dan tawa dengan rekan-rekannya, sang pemuda rupanya memiliki keluhan dalam dirinya yaitu dia merasa setelah bekerja lebih dari 3 tahun, dia merasa belum mendapatkan apa-apa, jangankan status menjadi permanen, naik gaji pun tidak pernah terjadi. Pemuda itu merasa segala bentuk pengetahuan dan kemampuannya telah ia tumpahkan untuk dedikasi kepada perusahaan, tapi tetap saja fikiran dan perasaan mengeluh selalu menghantui fikirannya. Pernah dan sering dia berusaha menanyakan ke atasannya mengenai hal ini, tapi apa boleh buat, atasannya tidak bisa memutuskan, karena atasannya sendiri, megeluhkan hal yang sama.

Untuk melampiaskan keluhannya, pemuda itu sering berkumpul dengan rekan-rekannya di kantor, di pantry, di tempat kopi, di tempat merokok, yang sama-sama membicarakan keluhan dan ketidakpuasan akan pelayanan perusahaan tempat dia bekerja.
Atau jika di bertemu dengan rekan-rekan yang bekerja di tempat lain jika sedang berkumpul.

Dalam rutinitas pagi dan sore seorang pemuda ini, RUPANYA, dalam ‘dunia’ seorang yang lain pada waktu dan tempat yang sama, terdapat seorang pemulung dengan segunung harapan dan impian. Seorang pemulung muda berusia sekitar 28 tahun, setiap pagi pemulung itu melewati stasion Dukuh dan setiap hari juga melihat dan memperhatikan Sang Pemuda tadi. Begitu juga pada saat pemuda itu pulang kantor, sang pemulung pun tepat dengan pulangnya dari pekerjaan MEMULUNG di stasion Dukuh.
Pada suatu waktu dan menjadi rutin, Pemulung kardus itu berbicara pada dirinya sendiri:"
“Andaikan saya bisa seperti pemuda gagah itu, sekolah tinggi, punya pekerjaan tetap dan bekerja di gedung bertingkat lagi.”
“Enaknya menjadi pemuda itu, turun dari kereta, dia sudah dijemput oleh motor langganan untuk ke kantornya.”
“Enaknya menjadi pemuda itu, setiap datang ke kantor, saling sapa dengan rekan-rekannya, begitu pun pulangnya memancarkan wajah ceria kepada teman-temannya.”
“Ya Tuhan, andaikan saya seperti pemuda itu, tapi apa daya, sekolah pun tidak lulus SD, semoga saja anak saya yang sedang sekolah kelak bisa seperti dia, menjadi pegawai bergaji, tidak seperti bapaknya sebagai pemulung."


Kira-kira begitulah ‘lompatan energi”  yang terjadi pada titik tempat dan waktu yang sama. Satu sisi pemuda mengeluhkan keadaan pekerjaan yang DIMILIKInya, dan sisi yang lain, sang pemulung yang setiap hari memperhatikan pemuda itu, malah dia berharap, anaknya kelak bisa menjadi karyawan seperti pemuda itu.

Andaikan saja sang pemuda tadi berhenti sejenak dalam rutinitasnya, kemudian dia berhenti dan melihat sekelilingnya, dengan kemampuan melihat ke 'bawah' maka dia akan menyadari bahwa:
Betapa apa yang dimiliki oleh dirinya sekarang ternyata "DI-INGINI" oleh orang lain.
Betapa Keadaannya jauh lebih baik dari orang lain.
Betapa posisi pekerjaannya sedang diminati oleh Jutaan pencari kerja lain.

Pembaca yang budiman,
Bila kita berhenti sejenak, dan mencoba melihat apa yang kita miliki, Bisa dilihat bahwa ternyata Kebahagiaan yang diinginkan orang lain, ternyata TELAH KITA miliki yang semestinya kita Syukuri.

Saya dede meki mekiyanto, menulis untuk sendiri dan berbagi......

Wassalam
http://www.fai-kao.com


Every worker has its own

Every worker has its own challenges that he is facing in the work. It is usual and common. - thereviewsolution.com


Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
Add image
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Images can be added to this post.

More information about formatting options

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
Image CAPTCHA
Copy the characters (respecting upper/lower case) from the image.