Hati Manusia dan tanah…

oleh : Dede meki mekiyanto

Tiba-tiba teringat pada suatu pengajian waktu di kampung dulu ketika masih SMA di Kuningan Jawa Barat. Terdapat 2 topik yang pada hari ini saya ingat yang ingin dibagikan kepada pembaca dengan berharap mengandung hikmah bagi penulis dan pembaca pada umumnya.
Yang pertama berjudul "Hati manusia bagaikan tanah, sedangkan pohon yang ditanam adalah kebaikan yang ingin ambil buahnya kelak.
Yang kedua berjudul "Analogi Pembersihan jiwa bagi seorang hamba beriman yang memiliki dosa sebelum masuk Surga"
Meskipun singkat, Pada kesempatan ini, saya coba tuliskan lagi untuk judul pertama terlebih dahulu. (yang kedua di judul post terpisah)

Pertama-tama mari kita lihat/bayangkan atau perhatikan pada sebidang tanah kosong. Pada tanah kosong itu, kita menanam sebuah pohon mangga dengan berharap suatu saat kita bisa mendapatkan buah mangga kelak. Dengan berjalannya waktu, pohon semakin membesar, membunga dan berbuah. Dengan berjalan waktu itu juga lah tanah kosong dibawah dan disekeliling pohon mangga, selalu ditumbuhi rumput-rumput liar dengan sendirinya tanpa diundang/ditanam. Jika kita berkeinginan agar pohon mangga tersebut bisa tumbuh subur tanpa adanya ‘pencurian’ nutrisi makanan oleh rumput-rumput di sekelilingnya, atau supaya ketika berbuah buahnya bisa dinikmati dengan mudah, maka rumput-rumput liar yang tak diundang itu perlu selalu dicabut dan dibuang hingga ke akarnya. Tetapi begitulah rumput liar, seperti yang sering kita lihat, setelah rumput dicabuti, mereka akan tumbuh lagi dan tumbuh lagi dengan sendirinya. Kebayang kan..?

Nah.. menurut pak ustadz dulu, Hati kita ini bagaikan Tanah tersebut, pohon mangga itu adalah Agama atau kebaikan yang ditanam, serta rumput itu adalah segala hal yang bersifat buruk yang kehadirannya tidak diundang yang bisa menguras kualitas kebaikan yang ditanam, rumput itu selalu timbul tanpa lelah yang jika dibiarkan akan membesar yang meskipun pohon yang ditanam itu berbuah, buahnya tidak bisa dinikmati karena tertutup rumput liar.  Seperti yang kita ketahui bahwa iblis dan tentaranya syetan tiada hentinya untuk menarik manusia untuk dijadikan temannya di neraka, termasuk didalamnya segala bentuk skenario, cara, hasutan, bisikan dll yang mengakibatkan manusia tersebut terjerumus pada keburukan dan pada akhirnya bisa menggerogoti kebaikan yang telah ditanam, seperti halnya rumput liar yang tiba-tiba tumbuh disekeliling pohon buah yang kita tanam.

Salah satu Ilustrasinya begini, ada seorang karyawan yang sungguh baik, rajin shalat, rajin shalat sunat nya, bekerja disiplin dan semua perilaku kebaikan selalu dilakukan demi sebuah buah yang ia inginkan. Tetapi pada suatu ketika, ketika dia sedang bersantai di sebuah lorong kantor pada wakt u istirahat, tiba-tiba dia melihat sebuah kertas yang terbang dan dengan refleks diambillah kertas itu. Ternyata kertas itu adalah slip gaji teman dekatnya yang selama ini bekerja sama dengannya dalam satu team, kerjaannya sama, lamanya bekerja sama, pokoknya semua sama, akan tetapi besaran gaji temannya itu ternyata lebih besar 1.5kali dari yang dia dapatkan perbulannya. Seketika itu timbulah iri hati, ditambah dengan rasa kecewa, sehingga dia berfikir dan berkata untuk “apa kerja harus sama dengan sebagus dan sebaik temannya, toh temannya ternyata mendapatkan gaji yang lebih besar”. Sayang beribu sayang, iri hati dan dengki terus berlanjut sehingga kerajinan dan kesungguhan dia bekerja menjadi sedikit menurun. Jika setiap ada kesempatan untuk bekerja yang lebih besar dan berguna, dia menjadi lebih surut semangatnya. Meskipun dia tetap istiqomah rajin shalat, puasa, shalat sunat, akan tetapi iri hati dan dengki masih bersemayam dalam fikiran dan hatinya bahkan menjadi berlanjut menjadi kebiasaan membicarakan temannya malah berkembang mengorek-ngorek pendapatan orang lainnya.

Ilustrasi lain mungkin bisa kita carikan dalam kehidupan sehari-hari kita. Tapi pada intinya bahwa, apapun segala kebaikan yang kita tanamkan, diperlukan suatu kewaspadaan diri jangan sampai tumbuh sifat-sifat, fikiran dan tindakan perusak seperti halnya rumput liar yang menggerogoti pohon mangga tadi. Sehingga kebaikan yang ditanam akan berbuah dengan baik dan berkualitas sempurna serta bisa dinikmati.

Dengan “ilmu” sehingga kita menjadi tahu bahwa dibalik pohon kebaikan akan selalu tumbuh rumput penggerogot kabaikan itu sendiri meski tidak ditanam. Dan dengan “ilmu” itu juga kita menjadi mengerti sehingga ketika rumput itu tumbuh dengan spontan kita cabut sebelum membesar dan mengakar. Jadi (misal) ketika ada rasa iri hati seperti ilustrasi di atas, segera cabut rumput itu dengan cara ber-istigfar dan mohon ampun.

Wallahu A'lam