Ketakwaanlah yang membawa diri kita sampai kepada sang Khaliq

Oleh: dede meki
Berbicara tentang yang namanya ‘Ikhlas’, beberapa orang mungkin ada yang masih alergi atau bahkan mengatakan ‘sulit’ untuk diterapkan. Sulit? mungkin iya, akan tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan atau dipelajari kan?

Tapi baiklah, penulis tidak mencoba untuk berkutat di persoalan sulit dan tidak untuk berikhlas. Tulisan singkat ini mencoba untuk mencari jalan keluar supaya ‘ikhlas’ tetap hadir dalam setiap tindakan kita. Atau mungkin mencoba mengajak untuk memiliki mind set (pola fikir) tentang ikhlas. Dimana kita fahami bahwa, Ikhlas merupakan salah jalan diterimanya atau sampainya amal baik kita kepada Allah sang Khaliq. Atau Ikhlas lah yang mampu membentengi godaan iblis dalam diri kita.

Membaca sebuah ayat alquran surah Al-Hajj ayat 37, yang berbunyi :

 
Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Jelaslah bahwa, dalam ayat tersebut, bukan daging-daging atau darah hewan qurban yang sesungguhnya yang sampai kepada Allah, tetapi ketakwaan hamba-Nya lah yang sesungguhnya sampai kepada-Nya.

Kalaulah kita menggali lebih dalam ayat ini, perintah qurban dalam proses ibadah haji merupakan bagian dari ibadah yang dilakukan untuk Tuhannya sang Khliq. Nah, mari kita aplikasikan kepada beberapa jenis ibadah yang diperintahkan Tuhan kepada kita dalam hubungannya dengan ke-ikhlas-an di atas.

Secara luas, Ayat ini menggariskan bahwa, setiap amal yang baik atau amal ibadah yang dilakukan, ternyata bukanlah fisik ibadah itu atau seringnya ibadah itu yang sampai kepada Allah, akan tetapi karena ketakwaan Hamba yang melakukannya-lah yang sampai kepada-Nya. (Mari kita hayati ungkapan ini.)

Seseorang, ketika dia rajin melaksanakan ibadah, baik jumlah maupun kualitasnya, dan jika dia melakukannya atas dasar Takwa kepada Allah, maka sampailah ketakwaannya itu kepada sang Khaliq bukan banyak dan jumlah ibadahnya yang sampai.

Karena tentu ada juga, orang yang memiliki kerajinan ibadah tertentu bisa jadi jumlah yang sekian banyaknya itu tidak bisa sampai hanya karena dia melakukannya bukan atas dasar takwa, tetapi karena gengsi misalnya, atau karena faktor sosial misalnya, atau bahkan karena riya misalnya, wallahu a’lam.

Oleh karena itu, Insya Allah, dengan menuju langkah kita menjadi Hamba yang Mukhlisin (atau orang-orang yang ikhlas) maka marilah kita belajar untuk merubah Mind Set (pola fikir) dan niat, bahwa apapun yang kita lakukan memiliki dasar yang jelas, yaitu atas dasar Takwa kepada Allah. Insya Allah dengan belajar bertransformasi mind set ke arah demikian, keikhlasan dalam diri, semakin lama semakin tertanan dengan kuat. Insya Allah.

Tulisan ini dibuat bukan sebagai alat untuk melakukan vonis kepada orang lain atau “mengira-ngira“ niat orang, akan tetapi sebagai sarana pribadi diri kita untuk mencoba mengarahkan mind set dan niat kita, agar apa yang kita lakukan, apa yag kita korbankan apa yang kita berikan, bisa sampai kepada sang khaliq, yaitu dengan selalu berdasar yang bernama TAQWA, bukan atas dasar yang lain.
Wallahu a'lam


Semoga bermanfaat
Wassalam
Dede
dedemeki@fai-kao.com

 


Sowing seeds of kindness

Sowing seeds of kindness always reaps a crop of heavenly blessings. - Dennis Wong


Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
Add image
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Images can be added to this post.

More information about formatting options

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
Image CAPTCHA
Copy the characters (respecting upper/lower case) from the image.