Azzam, duta Al-Azhar Peduli Ummat

sumber : Koran Tempo dan al azhar peduli
27 Juli 2010

Para pembaca Koran TEMPO, hari ini ada tayangan dari sinetron berseri Ketika Cinta Bertasbih (KCB) di RCTI. Lakon utama dalam tayangan itu, adalah Azzam yang diperankan Kholidi Asadil Alam. Ia akrab dipanggil Odi. Sekadar berbagi cerita, Odi sejak setahun lalu menjadi Duta Zakat Al-Azhar Peduli Ummat, selain juga kuliah di Universitas Al-Azhar Indonesia.
Bagaimana kehidupan sebenarnya duta zakat kita itu, berikut tulisannya:

Kholidi Asadil Alam (Odi), bintang dalam film Ketika Cinta Bertasbih (KCB), sosok yang bersahaja, murah senyum, dengan pengetahuan agama yang cukup baik. Bintangnya tengah bersinar di langit tinggi, tapi pemuda kelahiran Pasuruan 1989 itu, tetap merunduk ibarat padi. Kholidi, tetaplah dirinya yang santun bertutur dan tampil apa adanya.

Suatu hari, ia datang ke kantor Al-Azhar Peduli Ummat sembari nunggang motor jadul. Konon, motor itu warisan kakaknya yang dibawa langsung dari Pasuruan, Jawa Timur. Motor bebek yang diproduksi tahun 2000-an, dengan bentuk yang tak lagi rapi. Dari janji pukul 09.00, ia tiba telat dua jam, karena ban motornya gembos di jalan. Ia mendorong beberapa meter, hingga bertemu bengkel.
“Mas ini, seperti Azzam KCB ya”, selidik tukang bengkel. Kholidi mengangguk, ia memberi senyum ramahnya. Sejenak, tukang bengkel itu tertegun. Ia seakan tak percaya, bintang pujaannya naik motor jadul.

Kholidi, tengah berusaha tidak berubah. Dengan ketenarannya, ia tak berniat aji mumpung. Putra ketiga dari tiga bersaudara, pasangan H Abdul Latief Adenan dengan Hj Affidatuzzahro itu, selalu berusaha mengendalikan diri untuk tidak terjebak dalam dunia glamor.

Cerita dalam KCB, menempatkan Azzam sebagai sosok yang punya kepedulian tinggi. Tidak hanya pada keluarganya, tapi juga teman-temannya. Dalam realita pemerannya, kisah ini memang punya kemiripan dengan sikap hidup Kholidi. Ia merantau sekolah ke Jakarta sejak keluar SMP. Ditempa berbagai tantangan hidup, nurani kepedulian Kholidi makin kuat.

Sejak di bangku SMP dan SMA, Kholidi aktif berorganisasi. Ia melibatkan diri dalam berbagai aktivitas kepedulian. Di SMA, ia pernah membuat Majelis Maulid, misalnya. Dalam majelis itu, Kholidi mengajak teman-temannya menjadikan sedekah sebagai solusi keluar dari kesulitan. Hasilnya, tak sedikit teman-temannya yang kurang mampu dapat dibantu. Meski pada saat itu, Kholidi sendiri juga dalam kesulitan.
“Kita jangan takut menjadi miskin karena memberi”, tandas Kholidi menggetarkan. Sebagai orang yang dibesarkan dalam lingkungan pesantren, pengetahuan Khoilidi pada dunia zakat juga cukup baik. Ia juga meyakini, zakat rukun Islam yang paling tepat sebagai instrument ekonomi umat.
 
“Salah satu yang menjadikan kita manusia, adalah ketika kita peduli terhadap sosial dan kemanusiaan”, terang Kholidi, makin bernas.
Komitmen Kholidil Asadil Alam pada kemanusiaan, ditunjukkan dengan terlibat aktif dalam aktivitas Al-Azhar Peduli Ummat. “Saya bersyukur pada Allah, saya bahagia dan senang sekali dapat bergabung dengan Al-Azhar Peduli Ummat ini. Saya sekarang menjadi duta zakat Al-Azhar”, tegas Kholidi.
 
Bagi lembaga zakat ini, keterlibatan Kholidi menjadi satu motivasi.


Don't be afraid to be

Don't be afraid to be confused. Try to remain permanently confused. Anything is possible. Stay open, forever, so open it hurts, and then open up some more, until the day you die, world without end, amen.  - Paramount Song


Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
Add image
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Images can be added to this post.

More information about formatting options

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
Image CAPTCHA
Copy the characters (respecting upper/lower case) from the image.