Pemimpin (Imam) Politik

Dalam teori dan pemikiran politik Islam, ada tiga gelar simbolik yang
disematkan kepada beberapa orang yang melaksanakan tugas-tugas
kepemimpinan dalam pucuk elite kekuasaan. Yaitu, al-imâm, al-khalîfah,
dan amîr al-mukminin. Ketiga gelar simbolik ini telah pernah memainkan
peran penting pada roda kepemimpinan dalam sejarah perkembangan Islam.
Berikut ini beberapa penjelasan singkat tentang hakikat makna setiap
gelar simbolik tersebut.

Al-Imâm. Dalam bahasa Arab, kata imam dalam berbagai bentuknya
mempunya beberapa arti, seperti: tujuan atau maksud (al-amm), jalan
dan agama (al-immah), Ibu dan Bendara (al-umma), Pemimpin yang
diangkat oleh kaumnya (imam).

Imam juga berarti seorang pemimpin atau orang yang berada di muka.
Menurut Thaba'thaba'i, imam adalah gelar yang diberikan kepada
seseorang yang memegang pimpinan masyarakat dalam suatu gerakan
sosial, atau suatu ideologi politik, atau suatu aliran pemikiran
keilmuan atau keagamaan. Murtadha Muthahhari berpendapat, bahwa imam
adalah pribadi yang memiliki beberapa pengikut, terlepas dari
kenyataannya apakah dia saleh atau tidak. Dalam Al-Quran disebutkan,
"Kami telah menjadikan mereka itu sebagai imam-imam yang memberi
petunjuk dengan seizin Kami." (Al-Anbiyâ': 73). Jadi secara harifiah,
imam adalah seorang pemimpin.

Imam juga berarti sesuatu yang diikuti, baik sebagai kepala, jalan,
atau sesuatu yang membuat lurus dan memperbaiki perkataan. Selain itu,
imam diguna¬kan juga untuk menyebut Al-Quran, Nabi Muhammad,
khalifah, panglima tentara, dan sebagainya. Dengan demikian, jelaslah
bahwa kata imâm memiliki banyak makna. Yaitu, bisa bermakna: maju ke
depan, petunjuk dan bimbingan, kepantasan seseorang menjadi uswah
hasanan, dan kepemimpinan.

Dalam Al-Quran, imam digunakan untuk menye¬but pemimpin masyarakat
(Q/Al-Isra':71), kitab suci (Q/Hud: 17), pemimpin orang baik
(Q/Al-Ambiya: 72-73), pemimpin orang kafir (Q/Al-Qashash dan
Q/Al-Tawbah: 12)

Dari ayat-ayat Al-Quran di atas, bisa dipetik dua pengertian dari
makna imâm; sebagian besar digunakan dalam Al-Quran membuktikan adanya
indikasi yang bermakna "kebaikan". Pada sisi lain—bahwa kata imâm juga
menunjukkan makna jahat. Karena itu, imâm berarti seorang pemimpin
yang diangkat oleh beberapa orang dalam suatu kaum. Pengangkatan imâm
tersebut mengabaikan dan tidak memperdulikan, apakah ia akhirnya akan
berjalan ke arah yang lurus atau arah yang sesat. Kedua, kata imâm
dalam ayat-ayat Al-Quran itu bisa mengandung makna penyifatan kepada
nabi-nabi: Ibrahim, Ishaq, Ya'qub, dan Musa—sebagaimana juga
menunjukkan kepada orang-orang yang bertakwa.

Al-Khalîfah. Gelar ini sangat berkaitan dengan sejarah pertumbuhan dan
perkembangan Islam. Setelah Nabi Muhammad wafat, para sahabat
berkumpul untuk memilih dan memutuskan seorang yang akan menjadi
pengganti kepemimpinannya. Dan, Abu Bakar terpilih untuk menggantikan
Rasulullah dalam memimpin dan memelihara kemaslahatan umat Islam pada
masa-masa berikutnya. Abu Bakar diangkat menjadi khalifah, yang
berarti penerus atau pengganti nabi untuk mengurus masalah umat Islam.

Abu Bakar menegaskan, "Aku bukan khalifah Allah, melainkan khalifah
Rasulullah." Jadi, Abu Bakar diangkat oleh para sahabat sebagai
pengganti dan penerus kepemimpinan Rasulullah. Khalifah sebagai konsep
politik merupakan antitesis dari sistem ke¬kaisaran yang absolut otoriter.

Amîr Al-Mu'minîn. Gelar ini diberikan kepada khalifah kedua: Umar ibn
Khathtab—setelah menggan¬tikan Khalifah Abu Bakar yang wafat. Dalam
bukunya, Al-Muqaddimah, Ibnu Khaldun menjelaskan sebab pemberian nama
ini. Ia menulis, "Itu adalah bagian dari ciri khas kekhalifahaan dan
itu diciptakan sejak masa para khalifah. Mereka telah menamakan para
pemimpin delegasi dengan nama amir; yaitu wazan (bentuk kata) fa'il
dari imarah. Para sahabat pun memanggil Sa'ad ibn Abi Waqqash dengan
Amîr Al-Mu'minîn karena ia memimpin tentara Islam dalam Perang
Qadisiyyah. Pada waktu itu, sebagian sahabat memanggil Umar ibn
Khathtab dengan sebutan yang sama juga: Amîr Al-Mu'minîn sebagai
pengganti gelar yang susah disebut, yaitu: Khalifatu khalifati
Rasulillah (pengganti dari pengganti Rasulullah).

Secara umum, ketiga gelar di atas menunjukkan perlu atau adanya
kepemimpinan dalam Islam. Bagi suatu kaum atau umat, keberadaan
seorang pemimpin merupakan suatu keharusan yang tak mungkin
dimungkiri. Menurut Imam Al-Mawardi dalam Al-Ahkâm Al-Sulthâniyyah wa
Al-Wilâyât Al-Dîniyyah, dalam lembaga negara dan pemerintahan, seorang
kepala atau pemimpin wajib hukumnya menurut ijma'. Alasannya, karena
lembaga kepala dan pemerintah dijadikan sebagai pengganti fungsi
kenabian dan menjaga agama serta mengurus urusan dunia.

Al-Mawardi menyebut tujuh syarat yang harus dipenuhi calon kepala
negara (seorang pemimpin). Syarat-syarat itu, antara lain:
keseimbangan atau keadilan (al-`adâlah); punya ilmu pengetahuan untuk
berijtihad; punya pancaindera lengkap dan sehat; anggota tubuhnya
tidak kurang untuk menghalangi gerak dan cepat bangun; punya visi
pemikiran yang baik untuk mendapatkan kebijakan yang baik; punya
keberanian dan sifat menjaga rakyat; dan punya nasab dari suku Quraisy.

Adapun Imam Al-Ghazali mengingatkan kepada para pemimpin, khususnya
para penguasa, bahwa kekuasaan yang didudukinya memiliki batas dan
kadar tertentu, dan bisa juga kekuasaan itu mengandung keburukan.
Karena itu, dalam menjalankan kekuasaannya, seorang pemimpin harus
menjalankan sepuluh prinsip keadilan—sebagai syarat pertama bagi
seorang pemimpin, seperti disebutkan Al-Mawardi.


Antara lain;

seorang pemimpin harus memiliki rasa tanggung jawab yang
tinggi;

menerima pesan ulama;

berlaku baik kepada bawahan;

memiliki
rasa rendah hati dan penyantun;

tidak mementingkan diri sendiri;

memiliki loyalitas tinggi;

hidup sederhana;

lemah lembut;

cinta rakyat;

serta tulus dan ikhlas.

Yang jelas, Nabi Muhammad dengan tegas mengingatkan para pemimpin.
Nabi bersabda, "Hamba yang diberikan kekuasaan oleh Allah untuk
memimpin umat, tetapi mengkhianati, dan tidak memberikan nasihat atau
mengasihi mereka, Allah mengharamkan surga kepadanya."
Dalam hadis
lain Rasulullah berkata, "Siapa jadi pemimpin umat Islam, tetapi tidak
memperhatikan mereka sebagaimana terhadap keluarganya sendiri,
berarti ia telah memperoleh tempat yang mapan di api neraka."


Wa Allahu a'lam bi al-shawab.

sumber: http://mubarok-institute.blogspot.com


mudah2an bermanfaat bagi

mudah2an bermanfaat bagi kaum dan di tiru para peminpin


Post new comment

The content of this field is kept private and will not be shown publicly.
Add image
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.
  • Images can be added to this post.

More information about formatting options

CAPTCHA
This question is for testing whether you are a human visitor and to prevent automated spam submissions.
Image CAPTCHA
Copy the characters (respecting upper/lower case) from the image.